Sejarah Desa

  • Dibaca: 1309 Pengunjung

Sebagimana dimaklumi, adanya nama suatu desa  dapat diyakini mempunyai suatu latar belakang atau sejarah terhadap berdirinya suatu desa, sehingga nama tersebut  dipakai. Namun untuk mengungkap sejarah Desa Gulingan  secara pasti belum bisa dipastikan, karena belum adanya lontar yang bisa dijadikan patokan dalam menyusun  sejarah Desa Gulingan. Tetapi berdasarkan  cerita yang diproses di masyarakat yang disampaikan  oleh para tokoh  secara pertemuan dan dapat dipercaya sebagai sejarah  kelahiran Desa Gulingan dapat diuraikan sebagai berikut . Pulau Bali adalah Pulau yang telah dikenal dan terkenal dari jaman dahulu sampai sekarang. Hal itu disebabkan oleh alamnya yang indah dan budayanya yang tinggi serta dijiwai oleh Tatwa Agama Hindu. Dari sejak jaman Bali Purba maupun setelah mendapat pengaruh ajaran Siwa Sidhanta dan Budha Mahayana yang disebut Hindu. Banyaklah para tokoh agama atau orang-orang suci yang datang ke Bali, seperti: Danghyang Markandya, seorang pendeta yang pertama datang dari jawa Timur menuju kaki Gunung Agung atau Tohlangkir, bertujuan membangun pasraman pertapaan yang mengandung kekuatan gaib dan suci, dengan mengadakan perabasan hutan untuk sawah ladang bagi kesejahteraan hidup para pengiringnya. Mpu Sangkul Putih, adalah pengemong pura Besakih yang melanjutkan tradisi di Bali yang telah ada, seperti : membuat bebali berbentuk seni yang indah mengandung nilai simbul yang tinggi. Beliau juga berjasa mendidik dan mengajarkan orang-orang Bali menjadi Pemangku, Jro Gede, Jro Prawayah, Jro Kabayan dan sebagainya. Membuat Arca Lingga (Pratima) yang dibuat dari Kayu, logam sebagai alat konsentrasi pemujaan kepada bhatara bhatari. Mpu Manik Angkeran, Putra Danghyang Sidhimantra menjadi Pengemong Pura Besakih, menggantikan beliau Sangkul Putih, setelah beliau Pulang Ke Sorga. Pada jaman Beliau inilah tanah genting di selat Bali diputuskan oleh Danghyang Sidhimantra, agar Putranya Sang bang Manik Angkeran, tidak lagi pulang ke Jawa Timur. Mpu Kuturan, beliau berasal dari Jawa Timur membangun asrama pertapaan di Pura Silayukti Padang Bai di pantai selatan Karangasem. Beliau sangat berjasa terhadap masyarakat Bali, karena beliau mendidik dan mengajarkan tentang filsafat Bhuwana Agung dan Bhuwana Alit, perihal membangun Kahyangan dan Pelinggih Bhatara Bhatari Leluhur. Beliau juga memberikan tuntun tentang Pemerintahan, ajaran Kesuma Dewa, Widhi Sastra, Sangkara Yuga dan sebagainya. Danghyang Dwijendra, beliau juga mempunyai abiseka Mpu/Danghyang Nirarta, Ida Pedanda Sakti Wawu Rawuh, Pangeran Sangu Pati, Tuan Sumeru. Beliau inilah dianggap pendeta yang datang terakhir di Bali. Menurut Dwijendra Tattwa, beliau adalah Putra dari Danghyang Asmaranatha saudara dari Danghyang Angsoka, yang menjadi Purohita kerajaan Majapahit. Danghyang Dwijendra, tatkala berada di Daha mengambil istri yang bernama Ida Istri Mas, menurunkan Brahmana Kamenuh yang bernama Ida Ayu Swabhawa dan Ida Kulon (Wiraga Sandhi). Di Pasuruan memperistri Dyah Sangghawati, menurunkan Brahmana Manuaba yang bernama Padanda Kulwan, Ida Pedanda Wetan, Ida Pedanda Lor dan Ida Pedanda Ler. Di Brambangan (Blambangan) memperistri Sri Patni Kaniten menurunkan Brahmana Kaniten yang bernama Ida Rai Istri (Ida Padanda Istri Rai), Ida Padanda Sakti Telaga (Ida Pedanda Sakti Ender) dan Ida Padanda Kaniten. Sedangkan di Bali, yakni di Desa Mas  memperistri Sira Mas Ganitir, menurunkan Brahmana Mas yang bernama Ida Putu Kidul (Ida Padanda Mas atau Mpu Renon). Tersebut Putra beliau yang bernama Ida Padanda Sakti Telaga yang lebih dikenal dengan sebutan Padanda Sakti Ender, karena Perilaku beliau seperti orang urak-urakan namun sakti mandraguna. Akibat prilaku beliau itulah terjadi perselisihan paham dengan Ida padanda Istri Rai, tatkala berada di Gelgel. Lalu beliau meninggalkan saudara-saudaranya mengembara, dan dalam pengembaraan beliau selalu menolong orang lain yang dalam kesusahan. Pada suatu saat beliau melihat sinar redup seperti sinarnya rembulan maka seketika itupun beliau menuju ke tempat itu serta melakukan yoga tapa. Ditempat ini beliau lama tinggal dan banyak mempunyai murid (sisia) Tempat inilah yang kiranya disebut Subak Bulan. Dari tempat ini beliau pergi ke timur, dengan jalan merabas hutan (Babakan = merabas) untuk dijadikan sawah ladang bagi kepentingan para pengiringnya. Beliau juga mendirikan pangasraman pertapaan yang selalu bersinar cemerlang, bagaikan api yang menyala-nyala. Tempat ini menjadi suci dan angker yang disebut dengan agni sala (rumah api) yang sekarang kiranya Pura Gede Bang Api. Pura ini sekarang berada di banjar Ulun Uma Badung disebelah utara Banjar Babakan. Di Pura Agni sala ini beliau memberikan ajaran tentang atiwa-tiwa (upacara kematian) dengan menggunakan sarana tirta pengentas yang hanya boleh dibuat oleh sulinggih. Mengenai tempat atau pura ini adalah berdasarkan peristiwa yang beliau saksilan tatkala sedang bertapa di Subak Bulan yakni adanya nyala api di kejauhan. Karena beliau banyak mempunyai sisia, ada yang berprilaku sungguh-sungguh ada yang senang bergurau dan ada juga yang senang menguji kemampuan sang Pendeta. Salah satunya adalah : Beliau disuruh memetik dau sirih dengan tidak memanjat pohon tunjangannya. Pada saat inilah beliau mempertunjukan kemampuan dengan melakukan pemusatan cipta dengan mantra pangeradana, dengan serta merta pohon sirih itu melepaskan dirinya dari pohon tunjangannya seakan-akan mempersembahkan dirinya kepada sang Pendeta. Pada suatu malam datanglah salah seorang sisianya mempersembahkan buah nangka. Sang Pendeta tahu yang dibawanya itu adalah nangka tetapi karena hari malam beliau coba menanyakan apa yang dibawa muridnya itu. Muridnya mencoba menguji kemampuan gurunya ia mengatakan mempersembahkan buah semangka. Ada juga yang mempersembahkan semangka (Timun Guling) di katakan daging Guling. Ketika itu merasa dirinya dipermainkan sehingga marah dan mengutuknya, “Agar tidak ada Brahmana ditempat ini kalau nantinya ada akan menjadi putung” Ida Pedanda Sakti Telaga lalu membuat tempat istirahat dan pabijian yang akhirnya lebih dikenal dengan sebutan Beji Rsi. Tempat Istirahat beliau lebih dikenal dengan sebutan Batulumbung. Kiranya sekarang disebut dengan Banjar Batulumbung. Ida Padanda juga sering digoda oleh wong peri (orang tidak kelihatan). Atas kemapuan beliau, Wong peri tersebut mengakui kehebatan beliau. Sehingga terjadilah hubungan baik saling membantu andaikata mengalami kesulitan. Beliaupun akhirnya membuat permandian suci disebut Beji Taman Sari. Ditempat ini beliau melakukan Tapa Yoga, untuk menghubungkan diri dengan Tuhan serta Bhatara Bhatari yang telah amoring acintya. Entah apa sebabnya di Mahapura terjadi grubug, lalu Ida Padanda Sakti Ender dimohon untuk menyelamatkan rakyat Mahapura dari malapetaka grubug tersebut. Setelah beliau ngredana kembali segar bugarlah rakyat Mahapura tersebut. Tempat beliau ngredana disungsung dan didirikan Pura Sakti di Lokasi balai Banjar Pande Mengwi. Sekembali beliau dari Mahapura, di balai Banjar Lebah orang-orang disana sedang membuat daging Guling, melihat kedatangan beliau dari barat, cepat-cepat daging guling tersebut disembunyikan. Oleh karena beliau senang minta apa saja yang dilihatnya. Orang-orang tersebut berpura-pura bersantai-santai, menyaksikan adegan tersebut, beliau menanyakan apa yang kalian sembunyikan itu?. Dijawab dengan serentak, bahwa yang disembunyikan itu adalah timun guling, lalu beliau berkata : kalau memang benar itu timun guling, biarlah sudah itu timun guling sambil melanjutkan perjalanan beliau ke Timur. Setelah beliau lewat cepat-cepatlah daging itu dibukanya. Terkejutlah orang-orang tersebut dengan apa yang dilihatnya itu adalah benar-benar timun guling. Di timur perempatan jalan, beliau menghadap ke Barat dengan mengutuk supaya Banjar tersebut menjadi berantakan. Untuk menetralisir kutukan beliau tersebut, maka beliau disungsung dengan mendirikan Pura Sakti di Lokasi balai banjar Lebah Sari. Di peremapatan jalan itu juga beliau mengetahui ada orang mengintip dari dalam pintu rumah dalam pintu kuadi, beliau mengetahui bahwa orang yang ada di wilayah itu kepandaiannya berada di tengah lubuk hatinya. Tempat itu sekarang di namakan Banjar Tengah. Selanjutnya beliau melanjutkan perjalanan ke arah timur, kiranya tempat peristirahatannya atau tempat melakukan  tapa yoga itu yang dalam bahasa jawa kuno disebut dengan pegulingan yang berarti tempat tidur. Dari kata pegulingan, menjadi kata Gulingan yang akhirnya menjadi nama sebuah Desa yakni Desa Gulingan. Disamping data-data tersebut di atas, ada juga sebutan dalam sebuah Prasasti Angsri, yang menyebutkan di sebelah timur Pura Mahapura telah ada pengasraman yang indah dan suci. Pada kenyataannya ada beberapa peninggalan berupa : sebuah goa yang disebut dengan goa lalu pati, berada disebelah timur pura Desa Adat Gulingan, menghadap ke barat dan berhadapat dengan Pancoran lalu pati.Di Pura Desa dan Pura Puseh ada peninggalan Lingga Yoni, lambang siwa beserta saktinya. Pabijian Ida Batara disebut Pancoran Saraswati, pancoran tersebut menghadap keselatan yang berpapasan dengan aliran sunyai, yakni air mengalir dari selatan ke utara. Di sebelah selatan pancoran Saraswati, ada Banjar panglan. Panglan yang berarti pamuwonan (setra) kiranya setra tersebut berkaitan dengan pangasraman goa lalu pati. Sampai sekarang setra tersebut dipakai oleh Banjar Babakan Desa Adat Gulingan.Berdasarkan data-data tersebut, kiranya Desa Gulingan sudah dikenal sebelum kedatangan Danghyang Dwijendra di Bali, sehingga dapat diperkirakan sebelum abad ke 15. Demikian juga dengan kedatangan Ida Padanda Sakti Ender, yang dapat diperkirakan pada abad ke 17, mulai dikenal dengan nama Desa Gulingan. Demikian juga dalam babad Mengwi, Desa Gulingan mendapat perhatian khusus oleh Raja Mengwi, Cokorde Munggu, untuk mengatur tata letak nama Banjar dan penempatan warga.

        Demikianlah sekilas uraian sejarah Desa Gulingan, yang terdiri dari tiga belas  Banjar Dinas dan  satu Desa Adat.

 

  • Dibaca: 1309 Pengunjung